Total Tayangan Laman

Minggu, 23 Desember 2012

AGAMA WJ TUGAS DAN MATERI


TUGAS 1
<!--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->Coba Anda
jelaskan kandungan Surat Al-anfal  ayat
1-3 dengan
<!--[if !supportLists]-->2. <!--[endif]-->Mengapa
<!--[if !supportLists]-->3. <!--[endif]-->Bagaimana
Masyarakat Beradab, Peran Umat Beragama,HAM dan Demokrasi.



Masyarakat adalah sejumlah individu yang hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu,bergaul dalam jangka waktu yang lama sehingga menimbulkan kesadaran pada diri setiap anggotanya sebagai suatu kesatuan. Asal usul pembentukan masyarakat bermula dari fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang senantiasa membutuhkan orang lain. Dari fitrah ini kemudian mereka berinteraksi satu sama lain dalam jangka waktu yang lama sehingga menimbulkan hubungan sosial yang pada gilirannya menumbuhkan kesadaran akan kesatuan. Untuk menjaga ketertiban daripada hubungan sosial itu, maka dibuatlah sebuah peraturan.

Dalam perkembangan berikutnya,seiring dengan berjumlahnya individu yang menjadi anggota tersebut dan perkembangan kebudayaan, masyarakat berkembang menjadi sesuatu yang kompleks. Maka muncullah lembaga sosial, kelompok sosial, kaidah-kaidah sosial sebagai struktur masyarakat dan proses sosial dan perubahan sosial sebagai dinamika masyarakat. Atas dasar itu, para ahli sosiologi menjelaskan masyarakat dari dua sudut: struktur dan dinamika.

Masyarakat beradab dan sejahtera dapat dikonseptualisasikan sebagai civil society atau masyarakat madani. Meskipun memeliki makna dan sejarah sendiri, tetapi keduanya, civil society dan masyarakat madani merujuk pada semangat yang sama sebagai sebuah masyarakat yang adil, terbuka, demokratis, sejahtera, dengan kesadaran ketuhanan yang tinggi yang diimplementasikan dalam kehidupan sosial.

Prinsip masyarakat beradab dan sejahtera (masyarakat madani) adalah keadilan sosial, egalitarianisme, pluralisme, supremasi hukum, dan pengawasan sosial. Keadilan sosial adalah tindakan adil terhadap setiap orang dan membebaskan segala penindasan. Egalitarianisme adalah kesamaan tanpa diskriminasi baik etnis, agama, suku, dll. Pluralisme adalah sikap menghormati kemajemukan dengan menerimanya secara tulus sebagai sebuah anugerah dan kebajikan. Supremasi hukum adalah menempatkan hukum di atas segalanya dan menetapkannya tanpa memandang “atas” dan “bawah”.



Bangsa Indonesia adalah bangsa yang plural di mana bangsa ini terdiri dari pelbagai macam suku, bahasa, etnis, agama, dll. meskipun plural, bangsa ini terikat oleh kesatuan kebangsaan akibat pengalaman yang sama: penjajahan yang pahit dan getir. Kesatuan kebangsaan itu dideklarasikan melalui Sumpah Pemuda 1928 yang menyatakan ikrar: satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa: Indonesia. Kesatuan kebangsaan momentum historisnya ada pada Pancasila ketika ia dijadikan sebagai falsafah dan ideologi negara. Jika dibandingkan, ia sama kedudukannya dengan Piagam Madinah. Keduanya, Pancasila dan Piagam Madinah merupakan platform bersama semua kelompok yang ada untuk mewujudkan cita-cita bersama, yakni masyarakat madani.

Salah satu pluralitas bangsa Indonesia adalah agama. Karena itu peran umat beragama dalam mewujudkan masyarakat madani sangat penting. Peran itu dapat dilakukan, antara lain, melalui dialog untuk mengikis kecurigaan dan menumbuhkan saling pengertian, melakukan studi-studi agama, menumbuhkan kesadaran pluralisme, dan menumbuhkan kesadaran untuk bersama-sama mewujudkan masyarakat madan.



Hak Asasi Manusia (HAM) adalah wewenang manusia yang bersifat dasar sebagai manusia untuk mengerjakan, meninggalkan, memiliki, mempergunakan atau menuntut sesuatu baik yang bersifat materi maupun immateri. Secara historis, pandangan terhadap kemanusiaan di Barat bermula dari para pemikir Yunani Kuno yang menggagas humanisme. Pandangan humanisme, kemudian dipertegas kembali pada zaman Renaissance. Dari situ kemudian muncul pelbagai kesepakatan nasional maupun internasional mengenai penghormatan hak-hak asasi manusia. Puncaknya adalah ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan Declaration of Human Right, disusul oleh ketentuan-ketentuan lain untuk melengkapi naskah tersebut. Secara garis besar, hak asasi manusia berisi hak-hak dasar manusia yang harus dilindungi yang meliputi hak hidup, hak kebebasan, hak persamaan, hak mendapatkan keadilan, dll.

Jauh sebelum Barat mengonseptualisasikan hak asasi manusia, terutama, sejak masa Renaissance, Islam yang dibawa oleh Rasulullah telah mendasarkan hak asasi manusia dalam kitab sucinya. Beberapa ayat suci al-Qur’an banyak mengonfirmasi mengenai hak-hak tersebut: hak kebebasan, hak mendapat keadilan, hak kebebasan, hak mendapatkan keamanan, dll. Puncak komitmen terhadap hak asasi manusia dinyatakan dalam peristiwa haji Wada di mana Rasulullah berpesan mengenai hak hidup, hak perlindungan harta, dan hak kehormatan.

Sama halnya dengan hak asasi manusia, demokrasi yang berarti pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, secara historis telah ada sejak zaman Yunani Kuno sebagai respons terhadap pemerintahan otoriter yang tidak menutup partisipasi rakyat dalam setiap keputusan-keputusan publik. Melalui sejarah yang panjang, sekarang demokrasi dipandang sebagai sistem pemerintahan terbaik yang harus dianut oleh semua negara untuk kebaikan rakyat yang direalisasikan melalui hak asasi manusia. Hak asasi manusia hanya bisa diwujudkan dalam suatu sistem yang demokrasi di mana semua warga memiliki hak yang sama untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan berbangsa dan bernegara.

Sama halnya dengan hak asasi manusia, prinsip-prinsip demokrasi seperti kebebasan, persamaan, dll. terdapat juga dalam Islam. Beberapa ayat al-Qur’an mengonfirmasi prinsip-prinsip tersebut. Selain itu juga, praktik Rasulullah dalam memimpin Madinah menunjukkan sikapnya yang demokratis. Faktanya adalah kesepakatan Piagam Madinah yang lahir dari ruang kebebasan dan persamaan serta penghormatan hak-hak asasi manusia.

Baca lebih lanjut buku modul 3, hal. 3.3-3.55
Terakhir diperbaharui: Kamis, 12 April 2012, 07:52
Anda login se
Agama sebagai Sumber Moral dan Akhlak Mulia dalam Kehidupan

Agama dalam bahasa Indonesia, religion dalam bahasa Inggris, dan di dalam bahasa Arab merupakan sistem kepercayaan yang meliputi tata cara peribadatan hubungan manusia dengan Sang Mutlak, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan alam lainnya yang sesuai dengan kepercayaan tersebut.
Dalam studi agama, para ahli agama mengklasifikasikan agama ke dalam pelbagai kategori. Menurut al-Maqdoosi agama diklasifikasikan menjadi 3 kategori: 1) agama wahyu dan non-wahyu, 2) agama misionaris dan non-misionaris, dan 3) agama lokal dan universal.
Berdasarkan klasifikasi manapun diyakini bahwa agama memiliki peranan yang signifikan bagi kehidupan manusia karena di dalamnya terdapat seperangkat nilai yang menjadi pedoman dan pegangan manusia. Salah satunya adalah dalam hal moral.
Moral adalah sesuatu yang berkenaan dengan baik dan buruk. Tak jauh berbeda dengan moral hanya lebih spesifik adalah budi pekerti. Akhlak adalah perilaku yang dilakukan tanpa banyak pertimbangan tentang baik dan buruk. Adapun etika atau ilmu akhlak kajian sistematis tentang baik dan buruk. Bisa juga dikatakan bahwa etika adalah ilmu tentang moral. Hanya saja perbedaan antara etika dan ilmu akhlak (etika Islam) bahwa yang pertama hanya mendasarkan pada akal, sedangkan yang disebut terakhir mendasarkan pada wahyu, akal hanya membantu terutama dalam hal perumusan.
Di tengah krisis moral manusia modern (seperti dislokasi, disorientasi) akibat menjadikan akal sebagai satu-satunya sumber moral, agama bisa berperan lebih aktif dalam menyelamatkan manusia modern dari krisis tersebut. Agama dengan seperangkat moralnya yang absolut bisa memberikan pedoman yang jelas dan tujuan yang luhur untuk membimbing manusia ke arah kehidupan yang lebih baik.

Akhlak dalam praktiknya ada yang mulia disebut akhlak mahmudah dan ada akhlak yang tercela yang disebut akhlak madzmumah. Akhlak mulia adalah akhlak yang sesuai dengan ketentuan-ketentuanan yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya sedangkan akhlak tercela ialah yang tidak sesuai dengan ketentuan-ketentuan Allah dan rasul-Nya. Kemudian dari pada itu, kedua kategori akhlak tersebut ada yang bersifat batin dan ada yang bersifat lahir. Akhlak batin melahirkan akhlak lahir.
Menurut al-Ghazali sendi akhlak mulia ada empat: hikmah, amarah, nafsu, keseimbangan di antara ketiganya. Keempat sendi tersebut melahirkan akhlak-akhlak berupa: jujur, suka memberi kepada sesama, tawadlu, tabah, tinggi cita-cita, pemaaf, kasih sayang terhadap sesama, menghormati orang lain, qana’ah, sabar, malu, pemurah, berani membela kebenaran, menjaga diri dari hal-hal yang haram. Sedangkan empat sendi akhlak batin yang tercela adalah keji, bodoh, rakus, dan aniaya. Empat sendi akhlak tercela ini melahirkan sifat-sifat berupa: pemarah, boros, peminta, pesimis, statis, putus asa.
Akhlak mulia dalam kehidupan sehari diwujudkan baik dalam hubungannya dengan Allah – akhlak terhadap Allah, antara lain: tauhid, syukur, tawakal, mahabbah; hubungannya dengan diri sendiri – akhlak terhadap diri sendiri, antara lain: kreatif dan dinamis, sabar, iffah, jujur, tawadlu; dengan orang tua atau keluarga – akhlak terhadap orang tua, antara lain: berbakti, mendoakannya, dll.; hubungannya dengan sesama – akhlak terhadap sesama atau masyarakat, antara lain: ukhuwah, dermawan, pemaaf, tasamuh; dan hubungannya dengan alam – akhlak terhadap alam, antara lain: merenungkan, memanfaatkan.
  (Rujukan: baca Materi Modul 5 PAI (MKDU4221)
1)   Jelaskan pengertian akhlak mulia dan akhlak
tercela!
2)   Sebutkan dan jelaskan sendi-sendi akhlak
mulia dan akhlak tercela menurut Imam al-Ghazali!
3)   Sebutkan sebagian akhlak terhadap Allah!
Jelaskan dan tulis sebagian ayat al-Qur’an yang berkaitan dengannya!
4)   Mengapa kita harus berakhlak mulia kepada
orang tua? Tulis ayat al-Qur’an yang berkaitan dengannya!
5)   Jelaskan pengertian tasamuh, taawun, dan musawahdiserta ayat al-Qur’an!
6)   Bagaimana perwujudan akhlak terhadap alam?
ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI, DAN SENI
Pada materi ini anda akan diajak untuk membahas dan mengkaji tentang materi ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (IPTEKS) menurut ajaran Islam. Materi ini akan dibagi dalam tiga bahasan, yaitu:
1. Iman, ipteks, dan amal sebagai kesatuan;
2. Kewajiban menuntut dan mengamalkan ilmu;
3. Tanggung jawab ilmuan dan seniman.
Iman, Ipteks, dan Amal sebagai Kesatuan
Tiga varian antara iman, ipteks dan amal menjadi hal yang sangat  mendasar yang tidak bias dilepaskan antara satu dengan yang lainnya. Dalam kata lain, ketiga konsep ini dalam kehidupan harus menjadi satu kesatuan. Iman merupakan keyakinan vertical terhadap sang pencipta (spiritual). Ipteks merupakan kognisi yang harus kita tuntut agar menjadi cerdas (rasional) dan amal merupakan dampak dari pengetahuan. Sehingga, menjadi sebuah bangunan yang berbentuk amal (perilaku).
Iman adalah pengakuan dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan. Tiga segi keimanan ini sejatinya tidak pernah dipisahkan. Keyakinan akan Allah, bukan hanya ucapan dilidah saja, dan pada entri pentingnya ajaran Allah dan syariat-syariatnya bukan hanya menjadi pedoman dan hanya bias untuk mengucaokan saja, tetapi kesempurnaan semua itu adalah aplikasi dan implementasi dalam perbuatan kita (action). Dengan begitu rukun iman mencakup 3 aspek di atas yakni keyakinan di hati, diucapkan di lisan, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Alquran, kata iman bisa dirujuk pada Q.S. al-Ankabut [29]: 51, al-Baqarah [2]: 4, 285. Dalam perspektif ayat lain bisa pula dilihat pada Q.S. al-Anfâl [8]: 2, al-Baqarah [2]: 172.
Secara umum, ilmu pengetahuan (knowledge) akan didapatkan melalui proses berfikir (logika). Pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis merupakan formula yang disebut dengan ilmu pengetahuan (science). Islam sebagai landasan ilmu pengetahuan menyebut kedua dengan istilah ilmu. Di sini letak titik tekan para sarjana muslim bukan hanya menekankan pada pengetahuan (knowledge) dan ilmu (science) saja, melainkan ilmu Allah dirumuskan dalam lauh al-mahfûdz yang disampaikan kepada kita melalui firman-firman dalam Al-Qur’an dan Hadis nabi. Hal ini bisa dilihat dalam Q.S. al-Buruj [85]: 21-22.
Akal manusia sehingga berkembang menjadi ilmu pengetahuan dan teknologi, telah diinformasikan dalam al-Qur’an di antaranya Q.S. Fâthir [35]: 27-28, az-Zumar [39]: 9, al-Mujadilah [58]: 11, al-Taubah [9]: 122.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), teknologi diartikan sebagai kemampuan teknik yang berlandaskan pengetahuan ilmu eksakta dan berdasarkan teknis. Menelusuri pandangan al-Qur’an tentang teknologi, banyak ayat yang menyinggung tentang hal ini. Secara tegas Allah menyatakan dalam al-Qur’an bahwa alam raya diciptakan dan ditundukkan Allah untuk manusia. Misalnya Q.S. al-Jâsiyah [45]: 13, al-Ra’d [13]: 8.
Seni adalah keindahan. Ia merupakan ekspresi ruh dan budaya manusia yang mengandung dan mengungkapkan keindahan. Ia lahir dari sisi terdalam manusia didorong oleh kecenderungan seniman kepada yang indah, apapun jeinis keindahan itu.
Amal, padanan amal dalam bahasa Indoensia adalah bekerja. Dalam al-Qur’an terdapat 620 kata amal. Pengertian amal secara umum adalah sebuah perbuatan untuk mencapai sesuatu. Namun perbuatan dan amal terdiri dari amal baik dan amal buruk. Paling tidak, ada 4 hal pandangan Islam dalam etos kerja, yaitu: niat, konsep ihsan dalam bekerja, bekerja sebagai bentuk keberadaan manusia, orang mukmin yang kuat lebih disukai.
Terakhir diperbaharui: Senin, 7 Mei 2012, 07:37
Anda login sebagai WAHYU WIJAYANTO
INISIASI 7

Kontribusi yang diberikan oleh agama khususnya Islam dalam kehidupan politik cukup banyak. Dalam modul ini khususnya pada bagian Kegiatan Belajar 1 seperti telah dijelaskan di atas mencoba memberi gambaran tentang hal tersebut hanya dari dua sisi saja, itu pun keduanya bersifat normatif. Yaitu tentang prinsip-prinsip kekuasaan politik yang diajarkan oleh Islam dan kriteria pemegang kekuasaan politik yang diajarkan oleh Islam.
Pada bagian pertama, Islam secara lebih khusus Al-quran mengajarkan bahwa kehidupan politik harus dilandasi dengan empat hal yang pokok yaitu:
1. Sebagai bagian untuk melaksanakan amanat.
2. Sebagai bagian untuk menegakkan hukum dengan adil.
3. Tetap dalam koridor taat kepada Allah, Rasu-Nya, dan ulil amri.
4. Selalu berusaha kembali kepada Al-quran dan Sunnah Nabi SAW.

Pada bagian yang kedua, Islam memberi kontribusi bagaimana seharusnya memilih dan mengangkat seorang yang akan diberi amanah untuk memegang kekuasaan politik. Yaitu orang tersebut haruslah:
1. Seorang yang benar dalam pikiran, ucapan, dan tindakannya serta jujur.
2. Seorang yang dapat dipercaya.
3. Seorang memiliki keterampilan dalam komunikasi.
4. Seorang yang cerdas.
5. Yang paling penting Anda seorang yang dapat menjadi teladan dalam kebaikan.
Secara naluriah manusia tidak dapat hidup secara individual. Sifat sosial pada hakikatnya adalah anugerah yang diberikan oleh Allah SWT agar manusia dapat menjalani hidupnya dengan baik. Dalam faktanya manusia memiliki banyak perbedaan antara satu individu dengan individu lainnya, di samping tentunya sejumlah persamaan. Perbedaan tersebut kalau tidak dikelola dengan baik tentu akan menimbulkan konflik dan perpecahan dalam kehidupan bermasyarakat. Dari kenyataan tersebut perlu dicari sebuah cara untuk dapat mewujudkan persatuan dan kesatuan. Pendekatan terbaik untuk melakukan tersebut adalah melalui agama. Secara normatif agama Islam lebih khusus Al-quran banyak memberi tuntunan dalam rangka mewujudkan persatuan dan kesatuan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Beberapa prinsip yang diajarkan Al-quran untuk tujuan tersebut antara lain:
1. Prinsip persatuan dan persaudaraan.
2. Prinsip persamaan.
3. Prinsip kebebasan.
4. Prinsip tolong-menolong.
5. Prinsip perdamaian.
6. Prinsip musyawarah.
Terakhir diperbaharui: Senin, 7 Mei 2012, 07:52
Anda login sebagai WAHYU
TUGAS 3
<!--[if !supportLists]-->1) <!--[endif]-->Jelaskan
pandangan saudara tentang kontribusi agama dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan
bangsa!
<!--[if !supportLists]-->2) <!--[endif]-->Di antara
prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Al-quran untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan
bangsa adalah prinsip persamaan, persatuan dan tolong-menolong. Jelaskan maksud
masing-masing prinsip tersebut!
<!--[if !supportLists]-->3) <!--[endif]-->Musyawarah
adalah salah satu cara yang sangat dianjurkan oleh agama Islam dalam memecahkan
masalah yang timbul dalam masyarakat. Bagaimana pandangan Islam tentang
musyawarah dan apa kaitannya dengan usaha mewujudkan persatuan dan kesatuan
bangsa?

Rambu-rambu Jawaban Tugas 3

<!--[if !supportLists]-->1) <!--[endif]-->Untuk
menjawab soal nomor 1 Anda harus lebih teliti ketika membaca bahan ajar pada
Kegiatan Belajar 1, khususnya di bagian awal. Anda dituntut untuk dapat
menyerap maksud dan pokok-pokok pikiran yang ada dalam tulisan tersebut
kemudian Anda coba untuk memformulasikan dalam kalimat yang baik seperti yang
Anda pahami.
<!--[if !supportLists]-->2) <!--[endif]-->Sedangkan
dalam soal nomor dua soalnya cukup jelas dan saya kira mudah untuk dipahami.
Yang harus Anda lakukan hanyalah membaca kembali poin-poin di atas dan akan
lebih baik setiap Anda menjelaskan pengertian prinsip-prinsip tersebut sertakan
pula dalil-dalil Al-quran.
<!--[if !supportLists]-->3) <!--[endif]-->Dalam soal
yang ketiga ini khusus prinsip musyawarah harus Anda pahami. Cara menjawabnya
Anda dapat memulainya dari menjelaskan pengertian musyawarah dari segi bahasa,
kemudian menurut istilah dan teruskan dengan menjelaskan tentang arti penting
musyawarah dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang baik
untuk dapat mewujudkan persatuan dan kesatuan.

Available from:
Sabtu, 10 November 2012, 08:10
Tanggal penyelesaian:
Sabtu, 17 November 2012, 08:10
Anda
INISIASI 8
Allah SWT telah menganugrahkan kepada setiap manusia fitrah bertuhan. Kualitas fitrah tersebut di antara manusia tidak ada perbedaan. Yang membedakan nantinya adalah aktualisasinya dalam sikap hidup. Dari sini kita dapat memahami manusia apapun kepercayaannya pasti mempunyai pandangan yang sama tentang satu nilai yang universal misalnya tentang kasih sayang, kejujuran dan lain-lain. Itulah salah satu bukti bahwa manusia memiliki hati nurani sebagai fitrah anugerah Tuhan
Sungguh sesuatu yang logis kalau Allah kemudian memberi petunjuk kepada manusia berupa agama yang diturunkan melalui para rasul dengan perantaraan wahyu. Karena fitrah beragama tersebut masih berupa potensi maka wajar kalau ajaran agama yang diturunkan Allah tersebut berisi petunjuk bagaimana cara mengaktualkan fitrah tersebut ke dalam perbuatan nyata. Agama tersebut pastilah yang juga bersumber dari Allah SWT. Manusia tidak diberi wewenang untuk menetapkan agama apa yang baik untuk berhubungan dengan Allah SWT yang berhak menetapkan adalah Allah SWT sebagai pemberi fitrah.
Namun demikian manusia diberi kebebasan untuk menentukan pilihannya. Setelah petunjuk agama disampaikan para rasul apakah manusia akan mengikuti atau menolaknya sepenuhnya manusia diberi pilihan. Pilihan yang diambil itulah yang akan dijadikan pertimbangan Allah SWT untuk memberi balasan di akhirat. Kalau pilihannya sesuai dengan petunjuk Allah maka hidupnya akan bahagia dunia akhirat, namun apabila sebaliknya hasilnya adalah kehinaan hidup di dunia dan akhirat.
Bentuk persaudaraan yang dianjurkan oleh Al-quran tidak hanya persaudaraan satu aqidah namun juga dengan warga masyarakat lain yang berbeda aqidah. Terhadap saudara kita yang sesama aqidah, Al-quran bahkan jelas menggaris bawahi akan urgensinya. Beberapa petunjuk menyangkut persaudaraan dengan sesama muslim dijelaskan secara rinci.
Di antara perincian tentang petunjuk tersebut adalah bahwa penegasan bahwa sesama orang yang beriman mereka bersaudara. Di antara mereka tidak boleh saling mengolok, karena boleh jadi yang diolok-olok sebenarnya lebih baik. Di antara mereka juga tidak boleh saling menggunjing, karena perbuatan tersebut merupakan dosa. Dan antar sesama muslim harus saling menolong untuk melaksanakan kebaikan dan ketakwaan, juga saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.
Terhadap warga masyarakat yang non-muslim, persaudaraan harus juga dibina. Persaudaraan dan kerja sama tersebut tentu saja bukan dalam hal aqidah, karena kalau dalam bidang aqidah sudah jelas berbeda maka tidak mungkin ada titik temu. Toleransi tersebut sebatas menyangkut hubungan antar sesama dan hal-hal yang berkaitan dengan kemanusiaan. Maka dalam menjalin toleransi tersebut ada etika yang harus dipatuhi yaitu tidak boleh menghina keyakinan agama lain serta tidak boleh mencampur adukkan aqidah masing-masing.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar